SHARING SESSION IMPLEMENTASI PSAK 71,72,73 BERSAMA KAPRO IFRS TELKOM GROUP

Oleh Nizar Bezanuar

SAAT pelaksanaan Rapim Dapen Telkom 2020 di Semarang, diadakan sesi khusus knowledge sharing dengan thema “Sharing session Implementasi PSAK 71, 72, dan 73” dan narasumber Bapak M. Wisnu Adji (Kapro IFRS TelkomGroup). Tentunya seluruh karyawan TelkomGroup mengenal siapa pak Wisnu, beliau lah yang membawa TelkomGroup selangkah lebih maju dibanding perusahaan-perusahaan plat merah lainnya dalam hal pengadopsian International Financial Reporting Standars (IFRS).

Adapun PSAK 71, 72, 73 sendiri akan sangat penting bagi Dapen Telkom karena akan diimplementasikan di 2020 ini.

Sesuai ketentuan Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK), PSAK 71, 72, dan 73 yang merupakan adopsi dari Standar Pelaporan Keuangan Internasional IFRS, akan berlaku efektif per 1 Januari 2020.

Apa sih PSAK 71,72, 73 itu ???? yuk kita simak ulasan singkat berikut:

PSAK 71 mengatur Instrumen Keuangan mengadopsi dari IFRS 9, akan mengubah metode perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan. Selain industri perbankan dan perusahaan pembiayaan, PSAK 71 juga berdampak signifikan untuk perusahaan di luar industri keuangan yang mempunyai piutang lebih dari setahun. Untuk Dapen Telkom sendiri berdampak pada klasifikasi dan pengukuran asset keuangan serta pencadangan penurunan nilai asset keuangan.

Sementara PSAK 72 tentang Pendapatan Kontrak dari Pelanggan yang mengadopsi IFRS 15 akan mengubah secara signifikan kapan perusahaan mengakui pendapatan, pengukuran pendapatannya termasuk bagaimana penyajian dan pengungkapannya di laporan keuangan.PSAK 72 akan berdampak pada investee company Dapen Telkom yaitu dalam hal pengakuan pendapatan dan performance obligation.

Sedangkan PSAK 73 mengadopsi IFRS 16 yang mengatur mengenai Sewa (lease) akan mengubah secara signifkan pencatatan transaksi sewa dari sisi pihak penyewa (lessee). Hal yang menjadi tantangan adalah mengumpulkan seluruh kontrak yang mengandung sewa karena biasanya transaksi sewa tidak dilakukan secara terpusat, terutama perusahaan yang memiliki ratusan kantor cabang dan punya banyak anak perusahaan.

Naaahhh…… jadi sudah cukup jelas khan sekarang PSAK 71,72,73 itu.

Pembelajaran Kasus JIWASRAYA

Lebih lanjut pada sharing session dipaparkan mengenai kasus Jiwasraya yang belakang ini terjadi, sejarah masa lalu hasil laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Laporan Keuangan Jiwasraya, dengan Opini Disclaimer, hal ini karena akuntansi Jiwasraya tidak dapat diandalkan untuk mendukung kewajiban manfaat polis (cadangan), artinya penyajian informasi cadangan tidak dapat diyakini kebenarannya. Sejak 2016, Laporan keuangan Jiwasraya mulai di-audit PwC dengan opini Unqualified Opinion . Di 2019, terdapat issue yang disinyalir disebabkan oleh persolan-persoalan yang memicu perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan gagal bayar polis yang jatuh tempo.

Belajar dari kasus tersebut maka, Dapen Telkom sebaiknya aware terhadap case Jiwasraya dengan melakukan Investasi yang match dengan jatuh tempo kewajibannya. Otoritas Jasa Keuangan diharapkan mengawasi seluruh Asuransi Jiwa yang menjual produk keuangan dalam bentuk Saving Plan dengan janji fix return dan Dapen Telkom senantiasa mematuhi aturan OJK terkait penanaman investasi yang sesuai. Dapen perlu menjaga asset program-penanaman modal investasinya pada instrument keuangan untuk program pensiun manfaat pasti Telkom. Bila asset program/underlying asset programnya pada instrument keuangan beresiko maka dapat menambah beban manfaat pensiun / paska kerja yang besar dan berdampak besar terhadap Net Income Telkom.

Maka selaras dengan core value budaya Dapen Telkom yaitu “3K” – Ketepatan, Keterbukaan, Komitmen, serta core value TelkomGroup “3S” Solid, Speed, Smart, Dapen Telkom senantiasa mematuhi aturan OJK terkait penanaman investasi yang sesuai. Dapen Telkom Always the best.

HIMBAUAN KEPADA PMP TERKAIT PENGAMBILAN MPB MELALUI ATM DAN JADWAL LAYANAN BANK SELAMA PANDEMI COVID-19

Manifestasi ‘Budaya Inovasi’

Oleh Rahmat Kurniawan

SEBAGAI salah satu rangkaian kegiatan RAPIM Dapen Telkom Tahun 2020, pada Jum’at 14 Februari 2020 jam 10 pagi WIB dilakukan acara Sharing Session terkait Bisnis Digital dengan narasumber CEO Tiket.Com, Bapak Gema. Tujuan sharing session ini agar semua karyawan Dapen Telkom maupun Investee Company mendapat insight seputar budaya inovasi, sekaligus membuka wawasan dan pemikiran budaya inovasi di luar Dapen Telkom dan TelkomGroup.­

Materi diawali dengan paparan budaya. Menurutnya budaya merupakan suatu hal yang bisa dijadikan identitas unik dan khas bagi suatu daerah/perusahaan, dan dapat memberikan nilai yang positif. Budaya yang ada dalam perusahaan akan menentukan apakah bisa menumbuhkan atau menghambat inovasi.

Inovasi adalah penciptaan produk atau layanan baru yang bernilai bagi pelanggan yang didukung dengan model bisnis berkelanjutan dan menguntungkan. Inovasi bisa muncul dari ide-ide sederhana yang kreatif, namun terkadang ide sederhana itu hanya berakhir tanpa direalisasikan. Sehingga Kolaborasi atasan dan bawahan amatlah diperlukan, dan harus terjalin harmonis agar inovasi bisa terus dihasilkan.

Memimpin dari Depan

Inovasi dimulai melalui kualitas leadership founder/CEO. Pemimpin organisiasi yang inovatif harus bersemangat dalam mengerjakan tugasnya, memiliki jiwa optimis dan positif, menampilkan visi yang nyata dan jelas, berfikir maju, merangkul perubahan. Pemimpin harus menjadi sosok pemikir yang berani, merangkul seluruh elemen organisasi, memainkan peran penting dalam membina organisasi yang inovatif.

Membangun Budaya Inovatif

Karyawan akan bekerja maksimal ketika terinspirasi dan terdorong untuk mendobrak batasan diri. Namun mereka tidak bisa melakukannya saat mereka merasa tidak dianggap. Karyawan perlu merasa bebas memiliki pemikiran inovatif dan mengikuti ide-ide yang diminati. Jika manajemen menumbuhkan lingkungan yang kreatif dan terbuka, inovasi akan lahir secara alami. Proses penyaringan saran pada satu ide akan lebih cepat dan efektif ketika seluruh elemen organisasi terlibat. Dengan membangun budaya organisasi yang kuat, setiap karyawan memiliki tanggung jawab inovasi masing-masing.

Membangun Tim yang Efektif

Tim yang memiliki performa sangat baik menjadi dambaan setiap perusahaan untuk mencapai kesuksesan. Syarat penting mencapai tahap tersebut diantaranya, engagement anggota tim, struktur efektif, tujuan yang jelas. Suatu tim perlu menciptakan rasa aman secara psikologis dimana komunikasi dilakukan secara terbuka dan jujur untuk mencapai keberhasilan.

Mengapresiasi Kegagalan

Satu hal yang berpengaruh terhadap kreativitas, inovasi karyawan adalah pengakuan. Setiap orang ingin diakui/dihargai ide serta inisiatifnya. Beberapa orang tidak mau mengungkapkan ide karena takut gagal/tidak sesuai keinginan. Cobalah menunjukan sikap toleransi, menerima, dan tetap memberikan penghargaan pada kegagalan tersebut.

Memahami Masalah Klien

Organisasi yang inovatif mendorong karyawan untuk menerima masalah dari klien. Setiap masalah maupun keluhan klien menjadi peluang emas untuk menghasilkan kualitas kinerja dan layanan yang selama ini dikerjakan. Pembelajaran dari berbagai masalah dan keluhan klien harus dibagi pada setiap karyawan, agar karyawan mendapatkan pembelajaran maksimal bagi perkembangan organisasi kedepan.

Mengukur dan Membandingkan Dengan yang Terbaik

Kita harus bisa menilai diri sendiri dan dibandingkan dengan pesaing, klien, maupun mitra industri bisnis lainnya. Apakah selama ini kita sudah cukup inovatif? Penting untuk mengetahui siapa “pemimpin” pasar atau industri dalam fokus yang sama dengan kita. Carilah strategi untuk mengejarnya.

Menerapkan Struktur Flat Management

Struktur manajemen perusahaan inovatif cenderung datar (lean organization), sehingga terjalinnya komunikasi terbuka dan mendorong kepercayaan diri karyawan. Tetapi, jika struktur tsb tidak cocok dengan budaya perusahaan, alternatifnya adalah mengadakan sebuah ajang kompetisi agar ide-ide karyawan dapat dimunculkan. Penting untuk diperhatikan untuk tetap membuat jalur yang bisa mengakomodasi berbagai ide-ide segar. Dalam praktek dan teori manajemen, tidak ada yang dipastikan superior, karena setiap aspek manajemen memiliki kelebihan dan kekurangan.

Gunakan Golden Circle dalam Mendesain Produk – Simon Sinek dan David Butler

Golden Circle bisa diterapkan dalam mendesain sebuah produk baru atau usaha baru serta dapat diterapkan dalam tahap pengembangan usaha melalui analisa kelebihan produk, kelemahan produk yang berujung pada kepuasan pelanggan.

Salam Solid, Speed, Smart.